• SMP NEGERI 1 KALINYAMATAN
  • Unggul dalam prestasi berdasarkan iman, taqwa, budi pekerti dan berwawasan lingkungan

Pendidikan karakter di sekolah

Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Siswa Sekolah

Oleh : TM

Pendidikan Karakter, Sepenting Apa?

Penasaran nggak, sih, kalau sekarang banyak sekali lembaga pendidikan yang 'menjual' pendidikan sebagai basic sistem pendidikan? Sebenarnya, seberapa penting pendidikan karakter bagi anak?

 

Berita dunia pendidikan Indonesia masih sering diwarnai dengan kabar mengejutkan dari perilaku tidak baik para siswa. Ini tentu sangat mencoreng nama bangsa yang sejak dulu menerapkan karakter budi pekerti, sopan santun dan saling menghormati. Melihat maraknya pemberitaan negatif dalam dunia pendidikan ini pasti membuat kita berpikir, seberapa penting pendidikan karakter di sekolah?

Berita mengenai kenakalan remaja mulai dari keluyuran atau bolos sekolah, kekerasan di lingkungan sekolah hingga tawuran antar sekolah kian menjadi bukti bahwa karakter anak bangsa kini semakin melorot. Hal ini juga yang mendasari nilai-nilai pendidikan karakter sekarang dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah sesuai panduan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.

Dimasukkannya nilai-nilai pendidikan karakter dalam kurikulum ini bertujuan untuk menanamkan karakter yang baik agar siswa menjadi pribadi yang membanggakan. Sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang berbudi luhur serta tidak mudah terpengaruh oleh hal negatif yang diterima seiring dengan kemajuan jaman.

Memang tidak bisa disangkal jika media massa berpengaruh besar dalam pembentukan karakter. Itu sebabnya orang tua dan sekolah menjadi ajang dalam sarana pendidikan anak untuk mendidik karakter yang utama. Mulai dari gaya bicara pada sesama teman, pada orang yang lebih tua atau pada guru. Serta pemahaman akan apa yang boleh ditiru dengan yang tidak.

Pendidikan karakter siswa sebenarnya tidak cukup hanya dengan dilakukan di sekolah. Meski sebagian besar waktu anak dihabiskan di lingkungan sekolah, tapi peran orang tua dalam mengajarkan dan mengawasi kelakuan anak selama di rumah juga penting. Itu sebabnya pendidikan karakter bagi siswa di sekolah dan di rumah sama-sama penting untuk membentuk pribadi yang baik.

Namun disamping itu, yang paling utama adalah pemberian contoh atau keteladanan yang baik. Mengajarkan gotong royong, tolong menolong, bermusyawarah serta ramah tamah pada semua orang. Peran peneladanan ini tidak hanya untuk pendidikan di sekolah tapi juga untuk setiap orang dewasa yang ada disekitar.

Dengan pengajaran pendidikan di sekolah dan keteladanan dari orang tua, karakter anak pasti menjadi lebih baik. Bukan hanya sebagai peserta didik atau siswa saat di sekolah, sikap selama berada di luar sekolah juga akan lebih berbudaya. Dengan begitu, berita dunia pendidikan Indonesia pasti akan lebih didominasi dengan prestasi membanggakan dari generasi penerusnya.

                                                                                     

 

Struktur kegiatan siswa di sekolah dan luar sekolah menjadi salah satu fokus dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang terdapat dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 dengan semboyan “Senang Belajar di Rumah Kedua”. Nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didasari dari filosofi pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara. Yakni olah hati (etika), olah pikir (literasi), olah karsa (estetika), dan olah raga (kinestetik). Lantas dari filosofi itu diharapkan muncul nilai-nilai karakter siswa dimulai dari religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab dll. Kemudian dari nilai-nilai karakter yang diharapkan muncul dari filosofi pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara, nantinya akan mengkristalisasi menjadi lima nilai utama karakter, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Hasil dari proses tadi adalah individu yang memiliki keunggulan akademis sebagai hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat (olah pikir), individu yang memiliki kerohanian mendalam, beriman dan bertakwa (olah hati), individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan (olah rasa dan karsa), serta individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga negara (olah raga). Guna mendukung proses penguatan pendidikan karakter, maka disusun model implementasi PPK yang menyajikan kegiatan-kegiatan pendidikan karakter di sekolah yakni kegiatan intra-kurikuler (belajar-mengajar), kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler yang menguatkan kegiatan intrakurikuler adalah sesuai dengan minat dan bakat siswa yang dilakukan di bawah bimbingan guru/pelatih/melibatkan orang tua dan masyarakat seperti kegiatan keagamaan, pramuka, PMR, paskibra, kesenian, bahasa dan sastra, KIR, jurnalistik, olahraga, dsb. Selain itu ada pula kegiatan non-kurikuler dan pembiasaan pendidikan karakter di sekolah seperti memulai hari dengan upacara bendera (Senin), apel, menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu nasional, dan berdoa bersama (Asmaul Husna).Kegiatan Literasi /  Membaca buku-buku non-pelajaran tentang PBP, cerita rakyat yang dilakukan 15 menit sebelum memulai pembelajaran. Untuk kegiatan yang terakhir ialah kegiatan pendidikan karakter bersama orang tua di rumah, yang dilakukan pada sabtu-minggu. Yaitu saat siswa berinteraksi dengan orang tua dan lingkungan dan sesama.

Beberapa tantangan dan urgensi dikeluarkannya program Penguatan Pendidikan Karakter antara lain: Harmonisasi pengembangan potensi siswa yang belum optimal, besarnya populasi siswa, guru, dan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia, belum optimalnya sinergi tanggung jawab terhadap pendidikan karakter anak antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Kemudian tantangan-tantangan berikutnya adalah globalisasi, seperti pengaruh negatif teknologi informasi dan komunikasi terhadap gaya hidup remaja, serta pudarnya nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal bangsa. Lalu tantangan terbatasnya pendampingan orang tua mengakibatkan krisis identitas dan disorientasi tujuan hidup anak, ada pula keterbatasan sarana belajar dan infrastruktur prasarana dan sarana sekolah, sarana transportasi, jarak antara rumah siswa ke sekolah (jalur sungai, hutan), sehingga PPK diimplementasikan bertahap.

Karena itu, program Penguatan Pendidikan Karakter dengan semboyan “Senang Belajar di Rumah Kedua” yang dijalankan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus menjawab tantangan dan urgensi di atas agar memiliki manfaat tidak hanya bagi siswa, juga bagi penggiat pendidikan di sekolah, pemerintah, hingga lembaga masyarakat. Berikut 6 Manfaat Penguatan Pendidikan Karakter yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017: 1.Penguatan karakter siswa dalam mempersiapkan daya saing siswa dengan kompetensi abad 21, yaitu: berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. 2.Pembelajaran dilakukan terintegrasi di sekolah dan di luar sekolah dengan pengawasan guru 3.Penguatan dan revitalisasi peran Kepala Sekolah sebagai manager dan guru sebagai inspirator PPK 4.Revitalisasi Komite Sekolah sebagai badan gotong royong sekolah dan partisipasi masyarakat 5.Diperkuatnya peran keluarga melalui kebijakan pembelajaran 5 (lima) hari 6.Sinergi antar Kementerian, Pemda, lembaga masyarakat, penggiat pendidikan dan sumber-sumber belajar lain

Kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi di SMPN 1 Kalinyamatan dikembangkan secara seimbang. Sekolah melakukan pelatihan karakter building yang tidak memakan biaya besar ataupun melakukan hal-hal yang merepotkan. Ada juga kegiatan pembinaan kelas yang dilakukan setiap jam pertama oleh wali kelas. Tema-tema tema yang berkaitan dengan remaja dibahas wali kelas dan siswa yang duduk bersama untuk membicarakan masalah tersebut. Misalnya, tema  cara menjadi orang yang ahli di masa depan. Siswa juga diberi kesempatan menyampaikan hal-hal yang mereka miliki di depan kelas. Di sekolah disediakan kotak-kotak sosial untuk menanamkan kepedulian siswa. Tempat sampah juga dibedakan antara sampah basah dan sampah kering. Mereka dibiasakan untuk membuang sampah di tempatnya. Ada 3 hal yang sering diulang dalam pembinaan wali kelas, yaitu tidak menyakiti orang lain, tidak merepotkan orang lain, berbuat baik lebih baik daripada menerima kebaikan orang lain. Pencitraan ini dibentuk melalui label-label yang dibuat pada papan bacaan atau majalah dinding sekolah. Hal ini agar siswa mempunyai kerangka pikir yang positif. Setiap hari siswa juga diberi motivasi yang positif. Misalnya melalui pengenalan profesi. Orang tua dari berbagai profesi diundang ke sekolah untuk memberikan gambaran kepada siswa tentang profesinya. Ada yang berprofesi sebagai polisi, pengacara, guru, penerbang, dan sebagainya yang bercerita tentang perjuangan mereka sehingga bisa menjadi seorang yang profesional.. Cara ini sangat efektif membuat siswa memiliki motivasi dalam membangun cita-citanya.

Sumber : Kompasiana

Tulisan Lainnya
Pendidikan Karakter Keagamaan

Pendidikan Karakter Keagamaan Oleh : Lukman Khakim, S.Pd.I Pendidikan merupakan media untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuh

10/07/2020 11:02 WIB - Lukman Khakim, S.Pd.I
MPLS " PENDIDIKAN KARAKTER DAN ANTI KORUPSI"

Materi MPLS SMP N 1 Kalinyamatan TP 2020/2021   Pendidikan Karakter dan Antikorupsi oleh Muhamd Maghfur, S. Sn., M. Pd   Mengapa Perlu Pendidikan Anti Korupsi? Sebelum menyela

09/07/2020 17:10 WIB - Muhamad Maghfur